Halaman

Minggu, 28 Oktober 2012

Apa yang telah kamu lakukan semasa hidup?

Hai,
Malam ini cukup awut-awutan. Tugas menyerang dari segala arah dan deadline kian dekat. Tapi yang jelas, bukan itu yang lagi mengganggu pikiranku malam ini.

Semalem di twitter, aku baca tweet dari temen yang nulis kalo ada temennya yang meninggal dunia karena kecelakaan. Namanya Ria, anak komunikasi 2010, yang berarti adik tingkatku :') Biasanya kabar duka gini memang membuatku prihatin, tapi gak berlarut2 karena aku gak kenal dia.

Tapi sampai malam ini, detik ini, barusan aku baca timeline, masih ada yang membicarakan tentang sosok Ria. Dari semua tweet yang aku baca dari temen2nya, aku yakin 100%, Ria itu orang yang sangaaaattttttt baiiiikkkkkkk.....

Ya, itu semua tergambar dengan jelas. Semua orang yang mengenalnya mempunyai kesan yang baik dan menyenangkan dengan sosoknya. Wajah ayunya, sikap santun dan periangnya, sikap baiknya, lucunya dia, semuaanya bilang kalo Ria adalah seorang teman yang sangat berkesan. Semua orang dari segala angkatan, dari organisasi yang sama dengannya mempunyai kesan spesial terhadapnya.

Ini membuatku, seseorang yang bahkan tidak pernah mengenalnya, tidak pernah tahu yang mana dia, menjadi sangat terkesan olehnya. Menakjubkan ya? betapa seseorang yang telah tiada pun masih bisa memberikan pelajaran berharga bagi orang lain di akhir hidupnya :')

Aku lantas berpikir...apakah kelak jika aku udah gak ada, aku akan dikenang sebaik orang2 mengenang Ria? apakah akan ada banyak orang yang mengenangku? Apakah  orang2 akan menangisiku? apakah mereka akan kehilanganku? Jika nanti sudah waktunya, apakah aku sudah cukup memberi kontribusi berarti buat orang2 di sekelilingku? Aku rasa jawabannya adalah belum.

Aku, yang selama ini masih egois dan sombong, merasa seperti disadarkan. Hey, we just live once. What have you done during your life?? Jika kamu terdiam beberapa saat untuk memikirkan apa yang sudah kamu lakukan semasa hidup ini, artinya kita sama. Yup, kita perlu bekerja lebih keras lagi, kita perlu memperbaiki hidup kita yang selama ini mungkin udah kita anggap "benar". Coba pikirkan lagi.

Maka, mulai malam ini dan seterusnya, aku akan selalu berterimakasih untukmu, Ria. Seseorang yang telah memberikan pelajaran hidup yang sangat berarti. Bahwa hidup yang sangat singkat dan kematian yang sedekat urat leher ini, harus dimanfaatkan sebaik2nya. Aku merasa malu, ketika aku masih bisa berjalan dengan sombongnya seakan aku sudah lebih dari segalanya. Aku malu ketika selama ini sudah banyak mencela orang seakan2 aku yang paling benar dan suci. Aku malu ketika selama ini selalu menertawakan dan meremehkan orang lain seakan mereka lebih rendah daripada kita.

Jadi mulai sekarang, mari kita berusaha membuat hidup kita menjadi berarti untuk banyak orang, tidak hanya untuk diri kita sendiri. Membuat hidup kita menjadi "layak". Agar suatu hari nanti, ketika kesempatan kita sudah habis, kita masih bisa memberi kesan baik, pelajaran berarti, dan inspirasi untuk orang lain. Just like what you've done, Ria.

Ria, aku berdoa dengan tulus untukmu, semoga engkau mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Dilapangkan jalanmu, diterima semua amal baikmu :')

Terimakasih Ria.
It's such a regret I didn't know you :')



Senin, 08 Oktober 2012

Seandainya dia cowok...

Kalau lagi kesel, sebel, bad mood, galau, sedih, kecewa, marah, dan segala macam perasaan gak ngenakin lainnya, kamu punya seseorang yang bisa meredamkan semua itu gak sih?

Punya seseorang yang bisa membuat kamu nyaman di deketnya? Seolah-olah semua perasaan gak enak hilang gitu aja.

Punya seseorang yang bikin kamu semangat tiap hari?

Punya seseorang yang bisa bikin kamu seneng tiap sama dia?

Well, saya punya. Tapi bukan seseorang, melainkan "sesuatu" (bukan lagunya Syahrini loh -,-)
"Sesuatu" itu adalah...JENG JENG JENG....
(Sok dibikin tegang, padahal biasa aja)

"Sesuatu" itu adalah, siaran.

Yup, siaran. Cuap-cuap.
Gak tau kenapa, tapi yang pasti perasaan ketika masuk ke kabin siar dan menjadi seseorang yang lain itu buat aku LUAR BIASA.
Seolah-olah semua perasaan yang lagi dirasain itu sejenak hilang pas siaran.
Ngomong2 sama pendengar, muterin lagu, menyampaikan informasi, itu pengalaman menyenangkan.
Suaraku memang gak didenger seantero kota, paling cuma segelintir orang aja. Tapi kepuasan pribadi yang diperoleh itu loh :)

Aku ngerasa nyaman banget pas siaran, tenang, seneng, gak ada gundah sama sekali. Siaran jadi kaya semacam obat penghilang gundah gulana. Kalau ada masalah apapun yang lagi melanda sampai bikin hati rasanya dongkol, yang ada dipikiranku adalah siaran. Ya, siaran, supaya bisa menenangkan hati gitu. Selesai siaran rasanya udah agak plong.

Malah kadang kalo kuliah, aku ngerasa fine-fine aja bolos sekali dua kali (maaf yaa ma, pak T.T) Tapi kalo siaran, sebisa mungkin aku jalani dan tepati jadwalnya! Mau siaran malem, ujan, aku tetep bela-belain siaran. Selain soal tanggungjawab dan profesionalitas, rasa cinta terhadap dunia siaran ini lah yang bikin aku tetep bertahan sampe sekarang :)

Kadang suka sedih juga sama anggepan orang2. "Ngapain bela-belain siaran? gak dapet uang juga." "Ngapain siaran? ganggu kuliah aja." "Ngapain siaran? nyita waktu aja." bla..bla..bla..
Sedih lho dengernya, tapi mau jelasin kaya gimana juga percuma. Karena mereka gak ngerasain dan ngalamin seperti yang aku rasain.
Gimana senengnya bisa siaran, gimana siaran itu bisa bikin aku nyaman. Mereka berkomentar kaya gitu karena mereka gak tau.

Gak tau ya ini cuma aku aja yang merasa kaya gini atau penyiar2 yang lain juga?
Lebay? ya dikit lah :p Tapi beneran loh ini gak ada maksud sok atau gimana, tapi emang nyatanya gitu gimana dong.

Baru sadar, disaat orang2 biasanya ngerasa nyaman sama temen atau pacar kenapa aku malah nulis kaya gini ya. Ketauan deh jomblonya -__-

Yah, seandainya aja siaran itu cowok, pasti udah aku pacarin!
Hahaha, tuh kan mulai kumat freak-nya.

Yang pasti, buat yang udah menemukan "seseorang" itu, beruntungnya dan bahagianya kalian.
Aku sih belum nemu sampai sekarang, tapi udah cukup bahagia dengan "sesuatu" yang aku punya.

Good nite ya :)))